User blogs

Ada apa dengan ketiga makronutrien tersebut? Ada aliran diet yang sangat pantang 'mempertemukan' mereka. Padahal didalam 1 makanan sering kali ketiganya hadir. Apakah didalam 1 bahan makananpun mereka tidak akur?


Hari ini saya kedatangan 1 orang pasien yang menderita diabetes melitus. Tidak ada yang istimewa saat beliau menceritakan riwayat penyakitnya sampai dengan ketika beliau berkata,"Saya tidak mengerti mengapa gula darah saya bandel Dok. Padahal saya cuma makan nasi 4 sendok makan dan tidak pernah mencampur lauknya untuk dimakan bersamaan". Respon saya,"Justru itu gula darahnya susah turun. Ibu penganut Food Combining ya?" Ibu tadi mengangguk dengan wajah bingung. 


Didalam tubuh kita bahan makanan sumber karbohidrat diuraikan menjadi produk akhir berupa gula atau glukosa. Kemampuan suatu makanan dalam meningkatkan kadar gula darah disebut indeks glikemik (glycemic index) Semakin sedikit variasi nutrien yang ada bersama sumber karbohidrat maka semakin cepat perubahannya menjadi glukosa. Sebaliknya, semakin banyak variasi nutrien yang menemani karbohidrat dalam makanan maka semakin lambat berubahannya menjadi glukosa. 


Pada kasus pasien saya hari ini telah terjadi perubahan nasi menjadi glukosa dalam waktu yang cepat karena beliau memisahkan konsumsi nasi dari lauknya. Padahal kehadiran protein dan lemak selain memperlambat proses penguraian karbohidrat menjadi glukosa juga memperlambat penyerapan glukosa diusus kita. 


Setelah mendapat penjelasan tentang proses perubahan nutrien didalam tubuh akhirnya beliau setuju untuk mulai pola makan dengan komposisi seimbang setiap kali makan. Nah, apabila anda juga punya masalah kesehatan saya sarankan untuk menjalankan pola makan seimbang saja. Variasi diet diluar sana hanya bisa dijalankan bila tubuh kita masih sangat prima untuk beradaptasi dan melakukan kompensasi. 


Berikut adalah 2 literatur yang saya pakai untuk menjelaskan proses diatas kepada pasien saya:

CLINICAL DIABETES • Volume 29, Number 4, 2011

J. Nutr. 136: 2506–2511, 2006.


Bulan Ramadhan tiba sebentar lagi. Umat Muslim bersemangat mempersiapkan diri. Dari berbagai persiapan yang diulas berulang-ulang salah satunya adalah pola makan. Pada saat tidak berpuasa biasanya kita menjalankan 3 kali makan utama dan 3 kali selingan sedangkan saat berpuasa tidak demikian. Dengan adanya perubahan jadwal makan kita harus memperhatikan porsi dan jenis makanan yang kita konsumsi.

Sahur mempunyai pengaruh yang besar bagi kita dalam menjalankan puasa sambil tetap beraktivitas. Saat sahur pilihlah karbohidrat kompleks (karbohidrat yang lambat dicerna seperti nasi merah, oat meal atau whole grain pasta) untuk memberikan rasa kenyang yang lebih lama dan kenaikan kurva gula darah yang landai pada penderita diabetes. Batasi konsumsi lauk yang berlemak terutama dengan pengolahan yang digoreng untuk mencegah efek haus. Hal yang sama juga berlaku dengan konsumsi garam. Hindari makanan yang diasinkan atau mengandung tinggi natrium seperti telur asin, ikan asin dan makanan yang dikalengkan. Sayur sebaiknya selalu hadir saat kita sahur dan berbuka. Konsumsi air 2-3 gelas. Untuk memudahkan minum air dicicil sambil makan. Buah juga memegang peran penting dalam mempertahankan rasa kenyang sehingga buah harus dimasukkan kedalam menu lengkap sahur kita. 

Menu lengkap seperti ini sering dianggap oleh sebagian orang sebagai hal yang memberatkan. Ada saja keberatannya mulai dari persiapan makanannya repot, ngantuk sampai cepat kenyang saat harus menghabiskan paket makanan. Dalam keadaan yang seperti itu maka lihatlah kembali tujuan kita karena kegiatan rutin tetap berjalan meskipun jam kerja dikurangi. Nah, apakah kita ingin tetap bekerja dengan bugar dan produktif? Marilah kita niatkan sahur dan persiapannya seserius kita meniatkan puasa itu sendiri. Insya Allah membawa berkah tersendiri baik bagi yang melaksanakan maupun yang mempersiapkan sahurnya. Selamat menjalankan ibadah puasa...
Diani Adrina Jun 25 '13 · Tags: ramadhan, puasa, sahur, umum
Perkenalan makan pada anak sudah dimulai sejak usia 6 bulan. Pada masa ini biasanya para ibu bersemangat namun sekaligus deg-degan terutama pada ibu yang menangani anak pertama. Masukan dan saranpun bermunculan dengan dasar pengalaman si pemberi saran. Nah, untuk keadaan seperti itu mari kita lihat dulu kebutuhan kalori dan nutrien anak. 


Anak membutuhan kalori yang cukup banyak yaitu 110 - 120 Kal/kgBB sehat/hari dan protein sebanyak 2,5 g/kgBB sehat/hari untuk pertumbuhan dan perkembangan mereka. Jumlah lemak yang dibutuhkan sekitar 20% dari total kalori dan kebutuhan karbohidrat sekitar 50% dari total kalori. Jumlah kebutuhan lemak dan karbohidrat ini tidak terlalu berbeda dengan kebutuhan orang dewasa.


Sebelum menghitung kebutuhannya kita perlu tahu cara hitung berat badan sehat anak kita sesuai  umurnya dengan menggunakan rumus Berhman (1992) berikut ini: 

Usia 3 -12 bulan = [umur (dalam bulan) + 9] / 2

Usia 1 - 6 tahun = [umur (dalam tahun) x 2] + 8

Usia 7 - 12 tahun = {[umur (dalam tahun) x 7] + 5} / 2


Selanjutnya, kita masukkan berat badan sehat kedalam rumus dibawah ini untuk mengetahui kebutuhan Kalori perhari. Rumusnya:

Usia 0 - 12 bulan = BB sehat (dalam kg) x 110 Kal

Usia 1 - 3 tahun = BB sehat (dalam kg) x 100 Kal

Usia 4 - 6 tahun = BB sehat (dalam kg) x 90 Kal

Usia 7 - 9 tahun = BB sehat (dalam kg) x 80 Kal

Usia 10 - 12 tahun = BB sehat (dalam kg) x 70 Kal


Kebutuhan kalori anak bervariasi dari 1000, 1200, 1500, 1700, 1900, 2100, 2300, 2500 Kal bahkan bisa lebih. Hal ini disebabkan oleh karena anak tidak hanya sedang tumbuh dan berkembang namun juga aktivitas anak yang semakin banyak.

Kebutuhan protein anak bisa diketahui yaitu dengan mengalikan berat badan sehat dengan 2,5 g (BB dalam kg x 2,5 g)


Setelah mendapatkan hasil perhitungan maka kita perlu mencocokkan waktu sekolah, tidur siang, kegiatan ekstra kurikuler dan lain-lain dengan pembagian waktu makanan utama dan selingan. Sebaiknya waktu makan utama dan selingan berjarak sekitar 3 jam. Jadi dalam 1 hari anak mendapatkan 3 kali makanan utama dan 3 kali selingan. Kehadiran selingan sangat membantu mengejar kebutuhan kalori anak yang jumlahnya besar sehingga anak tidak perlu kita timbuni nasi dan lauk pauk dengan jumlah besar yang bisa membuatnya begah/kekenyangan. 


Dengan begitu padatnya aktivitas anak maka ada hal yang harus diperhatikan baik oleh orangtua dan pihak sekolah yaitu pengawasan terhadap pola makan anak saat mereka masih disekolah. Oleh sebab itu komunikasi yang cukup intens antara kedua belah pihak harus terjalin dengan baik demi kebaikan anak kita.

Kalori adalah satuan tenaga. Didalam tubuh kita kalori dihasilkan oleh pembakaran nutrien yang berasal dari asupan makanan dan dipakai untuk melakukan aktivitas atau kerja. Keseimbangan antara kalori yang masuk dan keluar akan menghasilkan berat badan dan kesehatan yang baik.

Dalam menghitung kebutuhan kalori dan nutrien dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu tinggi badan, berat badan ideal, usia dan aktivitas fisik. Mengapa harus berat badan ideal? Dengan menggunakan berat badan ideal maka sasaran kebutuhan yaitu untuk mencapai berat badan sehat/ideal akan terpenuhi dengan kata lain yang kurus dan yang gemuk, beratnya jadi proprosional.


Rentang kebutuhan kalori pria Indonesia umumnya 1500 - 2100 Kalori perhari. Rentang kebutuhan kalori wanita Indonesia umumnya 1300 - 1900 Kal. Makin tinggi/lanjut usia seseorang maka kebutuhannya semakin menurun dan sebaliknya.  


Pada kehidupan sehari-hari sering terjadi overestimasi kebutuhan dengan alasan sering bergerak, sering begadang dan lain-lain. Hal ini menyebabkan orang makan lebih dari kebutuhan yang seharusnya. Akibatnya berat badan bertambah terus yang sering juga diiringi kenaikan gula darah, tensi, kolesterol, trigliserida, asam urat dan teman-temannya. 


Nah, anda dapat menghitung sendiri kebutuhan kalori anda, kemudian pilih Diet 1500 Kal, Diet 1700 Kal, Diet 1900 Kal atau Diet 1200 Kal (khusus yang 1200 Kal sebaiknya dijalankan dibawah pengawasan dokter). Selamat mencoba...